Oleh: fizali | 26 Oktober 2010

NIKAH WANITA HAMIL

MENIKAHI WANITA HAMIL

ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN YANG MELARANG

Oleh : Ali Trigiyatno

Orang tua zaman sekarang ketika tahu bahwa anak gadisnya hamil dahulu sebelum nikah beragam sikap ditunjukkan oleh mereka. Ada yang panik, malu, marah besar, tersinggung, namun tidak sedikit pula yang cukup santai menanggapinya dengan berkata,” Zaman sekarang mah, yang begituan sudah umum, lumrah dan bukan barang aneh lagi”. Entah itu sebagai sebuah ungkapan untuk membela diri atau mengurangi rasa malu, yang jelas ucapan maupun sikap seperti ini semakin mudah kita jumpai di tengah-tengah masyarakat tidak peduli yang tinggal di desa maupun di kota.

Adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa pergaulan muda-mudi kini lebih berani dan cenderung ‘kebablasan’ dalam arti semakin mengabaikan batas-batas pergaulan lawan jenis yang ada dalam ajaran agama maupun norma-norma adat ketimuran kita. Dengan dalih kemajuan dan atas nama modernitas mereka meniru dan mempraktekkan apa yang mereka dapat dan saksikan di layar kaca lewat tayangan film maupun sinetron yang mengusung ide maupun budaya hedonis dan permissive serta materialis.

Namanya saja kebablasan, maka  sepasang muda-mudi yang kebablasan dalam bergaul bisa dipastikan akan mendapatkan ‘sesuatu’ yang  mungkin tidak terpikirkan sebelumnya seperti hamil sebelum nikah. Sepasang muda-mudi yang tahu atau baru sadar dengan kejadian ini biasanya terus panik dan cemas. Berbagai sikap dan reaksi negatif ditunjukkan seperti ingin melakukan aborsi, si laki-laki lari dari tanggung-jawab, atau keduanya ‘terpaksa kawin’ atau dikawinkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan keduanya.

Bahwa hamil sebelum nikah semakin mudah kita temukan di tengah-tengah masyarakat bukan rahasia lagi. Kita tentunya amat menyayangkan dan prihatin dengan fenomena seperti ini. Bagi yang sudah terlanjur hamil pra nikah, sikap apa yang mestinya diambil?. Yang paling sedikit resikonya tentu dengan menikahkannya sama pria yang menghamilinya. Namun dalam persoalan ini masih menyisakan sekurangngya  tiga pertanyaan besar, bagaimana dengan status pernikahan yang seperti ini dalam pandangan fuqaha?. Sah atau tidak?. Diperbolehkan apa dilarang?. Lantas bolehkah suaminya itu menggaulinya sebelum ia melahirkan? Serta bagaimana kedudukan anak tersebut?. Tulisan singkat ini akan mencoba mengupasnya.

Status Perkawinan

Ada kalanya wanita yang sudah terlanjur hamil untuk menutupi rasa malu dan aib keluarga dinikahkan dengan pria yang menghamilinya atau bisa juga ‘dibelikan’ pria lain yang mau memperisterinya. Jika wanita tersebut dinikahkan dengan pria yang menghamilinya, maka sepakat  ulama membolehkan dan bahkan sebagian lagi mewajibkannnya. Analoginya sederhana, jika seseorang mencuri mangga orang lain adalah haram, maka dengan membelinya maka sudah berubah jadi halal. Orang yang berzina pada dasarnya ‘mencuri’ milik orang lain (wali) dan untuk merubahnya agar menjadi halal adalah dengan ‘membelinya’ lewat jalan menikahinya.

Jika ia dinikahan dengan pria lain yang bukan menghamilinya, maka dalam hal ini pendapat ulama cukup variatif. Imam Syafi’I berpendapat tidak ada halangan untuk menikahi wanita hamil walaupun bukan oleh pria yang menghamilinya. Senada dengan pendapat Imam Syafi’I dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah dan Muhamad bin al-Hasan sahabatnya, cuma beliau menambahkan syarat agar suami menahan diri untuk tidak berhubungan intim sampai isterinya itu melahirkan. Jadi keduanya bisa menikah namun masih terlarang berhubungan intim sampai wanita tersebut melahirkan.

Imam Ahmad menambahkan syarat untuk dapat menikahi wanita tersebut, agar si wanita itu sudah menjalani masa iddah yakni sampai melahirkan dan sudah bertaubat dengan taubat nashuha, jika ia belum atau tidak bertaubat, menikahi mereka adalah terlarang. Ulama Malikiyah mensyaratkan untuk dapat menikahi wanita itu adalah setelah menjalani istibra’ 3 kali haid atau telah berlalu masa 3 bulan, jika syarat ini tak terpenuhi maka pernikahan tersebut adalah fasid dan harus difasakh. (Wahbah az-Zuhaily: IX :6648 dst)

Berbeda dengan pandangan di atas, Abu Yusuf sahabat Imam Abu Hanifah dan Imam Hasan al-Bashri serta Zufar menyatakan keduanya tidak boleh dinikahkan, pernikahan seperti itu adalah fasid alias batal. Ibnu Qudamah penulis kitab al-Mughni dari madzab Hanbali menambahkan, jika mereka mau dinikahkan maka harus dipenuhi dua syarat, yakni wanita tersebut sudah melahirkan bila dia hamil dan wanita tersebut sudah didera apakah dia hamil atau tidak sebagai bentuk hukuman had atas pelaku zina.

Dengan menyimak berbagai pendapat fuqaha di atas kiranya tidak ada kata sepakat mengenai hukum menikahi wanita hamil bagi pria yang bukan menghamilinya. Ada yang membolehkan mutlak, membolehkan dengan syarat, bahkan ada yang melarang sama sekali. Dengan demikian status pernikahan seperti ini masih problem dari segi sah tidaknya dalam kacamata fuqaha’.

Status Anak

Anak yang dilahirkan berstatus anak zina jika pria yang menikahi ibu itu adalah bukan pria yang menghamilinya, ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Lantas bagaimana jika pria itu adalah yang menghamilinya?. Sebagian ulama menyatakan bayi itu termasuk anak zina bila ibunya dinikahi setelah janin berusia 4 bulan ke atas. Sedang yang lainnya berpendapat bahwa bayi itu tetap berstatus sebagai anak zina di luar nikah, walau dari segi biologis tetap merupakan anaknya.

Bagaimana dengan pandangan ulama Indonesia masa sekarang dalam menyikapi pernikahan dengan wanita hamil ini? Dalam kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai produk fiqh hasil kesepakatan ulama Indonesia hal ini diatur dalam Bab VIII pasal 53 ayat 1,2 dan 3 yang bunyinya :

  1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya.
  2. Perkawinan dengan wanita hamil yang tersebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
  3. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandungnya lahir.

Sedang status anak tersebut adalah anak sah. Karena pengertian anak sah menurut KHI Pasal 99 adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. KHI sendiri tidak mengatur secara jelas bagaimana status pernikahan wanita hamil yang menikah dengan pria yang bukan menghamilinya.

Setelah menyimak berbagai pandangan dan ketentuan seputar pernikahan wanita hamil di atas maka dapat dijelaskan hal-hal sbb:

  1. Pernikahan wanita hamil dengan pria yang menghamilinya adalah boleh menurut kesepakatan ulama. Selama pernikahan keduanya boleh bercampur layaknya suami-isteri, status anaknya adalah anak zina, walau dalam KHI dan UU Perkawinan ditetapkan sebagai anak yang sah.
  2. Pernikahan wanita hamil dengan pria yang bukan menghamilinya diperselisihkan status hukumnya, namun jumhur memperbolehkannya dengan beberapa syarat. Status anaknya menurut UU Perkawinan dan KHI adalah sebagai anak yang sah. Keduanya boleh melakukan hubungan seks sebagaimana biasa.

Ihtitam

Apapun alasannya hubungan seks pranikah adalah haram dan dosa besar. Menikah atau menikahi wanita hamil apalagi ia sendiri yang bukan menghamilinya membawa resiko yang cukup besar yang dapat mengurangi atau mengganggu keharmonisan rumah tangga. Di kemudian hari mungkin saja salah satu pihak  mengungkit-ungkit masa lalu si wanita yang kelam jika ada percekcokan. Secara psikologis, yuridis maupun sosiologis pernikahan wanita hamil menyisakan sejumlah problem dan resiko, maka jangan sekali-kali kita terpedaya dan jatuh ke dalamnya.

Menurut hemat penulis, pendapat yang menyatakan boleh menikahi wanita hamil oleh orang lain dengan syarat keduanya sudah bertaubat dan sudah menjalani hukuman dera (di negara kita belum memungkinkan) adalah pendapat yang paling tepat untuk mengurangi terjadinya pergaulan bebas. Karena dengan taubat nashuha diharapkan keduanya sudak menyesal dan kapok tidak mengulangi lagi alias kembali menjadi orang baik-baik lagi, sedang hukuman had baginya sebagai efek jera bagi dirinya dan orang  lain agar tidak mencoba-coba melakukannya.

Maha suci Allah yang telah mengingatkan hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya :

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin”.( An-Nur: 3)

Lazimnya yang mau menikah dengan perempuan yang berzina adalah laki-laki yang berzina dengannya atau orang yang biasa berzina. Orang-orang yang beriman tentu akan berpikir seribu kali jika akan menikah dengan perempuan yang telah hamil apalagi jika ia hamil dengan pria yang tidak jelas jluntrungnya. Bagaimana dengan anda?

Semoga kita terjaga dan dijaga dari pergaulan bebas yang semakin gencar terjadi di sekeliling kita. Semoga Allah mempertemukan kita dengan jodoh yang sama-sama mukmin dan pandai menjaga kesucian diri serta kehormatan diri. Semoga!!!.

Penulis adalah Staf Pengajar STAIN PEKALONGAN


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: