Oleh: fizali | 26 Oktober 2010

Mahasiswa Antara Kuliah, Bekerja dan Menikah; Mana Yang Harus Didahulukan?Ж

Oleh : Ali Trigiyatno

Iftitah

Dalam kehidupan sehari hari orang selalu dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau harus ia pilih. Terkadang pilihan yang ditawarkan atau dihadapi itu tak selalu ideal dan sesuai dengan yang kita harapkan. Maka dari itu diperlukan sebuah kecerdasan dan seni untuk memilah dan memilih agar tidak salah pilih yang berujung pada sebuah penyesalan kelak di kemudian hari.

Demikian pula yang dialami dan dihadapi oleh makhluk bernama mahasiswa, dalam perjalanan kuliahnya menuju terminal bernama sarjana, ia selalu dihadapkan pada beberapa pilihan seperti antara studi dulu sampai selesai atau ‘nyambi’ menikah atau bekerja. Apapun pilihan kita tentunya ada resiko dan mungkin sedikit ‘tumbal’ yang harus dibayar. Kuliah sambil menikah bias jadi kuliahnya tidak selesai-selesai atau malah terputus di tengah jalan. Kuliah sambil bekerja dapat mengakibatkan prestasi tidak maksimal. Sebaliknya dengan kuliah saja diharapkan prestasi bisa lebih maksimal dan cepat selesai.

Jika diantara kita ada yang dihadapkan persoalan seperti ini, barang kali tulisan berikut dapat dijadikan untuk berbagi pengalaman dalam menentukan sikap. Tulisan ini lebih banyak didasarkan pada pengalaman penulis sendiri ketika kuliah dulu ditambah dengan berbagai literature yang relevan.

Semua dibutuhkan !

Kuliah, nikah serta kerja adalah sebuah kebutuhan dari semua mahasiswa. Ketiga-tiga cepat atau lambat (sooner or later) pasti akan dilalui dan dilewati oleh setiap mahasiswa. Maka dari itu kita harus mempersiapkan ketiga-tiganya dengan sebaik-baiknya agar kesemuanya dapat diraih dengan sukses tanpa harus mengorbankan atau ada yang dikorbankan salah satunya ( prinsip la dharar wa la dhirar ). Jadi ketiga soal itu bukanlah makhluk yang saling mengancam satu sama lain dan tidak usah diposisikan saling mengancam.[1]

Buat Prioritas !

Karena ketiganya sama-sama dibutuhkan dan bukanlah musuh yang saling mengancam, maka yang dibutuhkan adalah mengelola masing-masing dengan sebaik-baiknya serta membuat skala prioritas mana yang lebih penting dan mendesak serta lebih mendatangkan kemaslahatan hidup kita bersama di masa sekarang dan yang akan datang. Prinsip yang perlu dipegang di sini adalah “taqdimul aham minal muhimm” yakni mendahulukan yang lebih penting dari yang penting![2]

Kuliah lebih dahulu !

Yang namanya mahasiswa tentunya ia masih disebut mahasiswa jikalau ia masih belajar atau kuliah di bangku PT. Jadi aktifitas kuliah bagi seorang mahasiswa hukumnya ‘wajib mughalladzah’ yang tidak boleh disepelekan apalagi ditinggalkan demi untuk menikah atau bekerja umpamanya. Dari sini jelas sudah bahwa kuliah bagi seorang mahasiswa adalah tugas utama dan pertama sampai ia berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.

Ingatlah tujuan dan harapan orang tua mengirim antum ke PT adalah untuk menuntut ilmu serta mempersiapkan masa depan yang lebih baik, bukan untuk bekerja atau menikah. Soal-soal yang lain bisa ditaruh nomer sekian. Dalam hal ini layak anda camkan sebuah nasehat yang cukup bijak, “ Maju selangkah dalam urusan cinta adalah 10 kemunduran dalam urusan Ibadah dan belajar, demi cita-cita hindarilah cinta, namun demi cinta kejarlah cita-cita”.[3]

Lalu Bekerja !

Setelah tugas menuntut ilmu dapat selesai dengan hasil memuaskan, kita dapat menempuh langkah selanjutnya yakni mencari pekerjaan, karena lazimnya pekerjaan di negeri ini tidak mencari orang, jadi oranglah yang perlu mencari pekerjaan. Kalau dapat tentunya mendapatkan pekerjaan yang halal dan thayyib, terhormat dan mendatangkan banyak hasil.

Di zaman sekarang ini, mencari pekerjaan (termasuk menjadi PNS) bukanlah pekerjaan yang mudah untuk kebanyakan orang. Tanpa skill yang memadai, ilmu yang cukup, serta relasi dan koneksi yang luas, ditambah faktor-faktor lain yang juga menentukan, rasa-rasanya sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan cukup menjanjikan. Sarjana yang diproduksi oleh berbagai PT dari tahun ke tahun selalu menyisakan ‘sisa’ tenaga terdidik yang belum atau tidak terserap di lapangan kerja.[4]

Baru Menikah !

Jika ilmu sudah diraih, title sudah disandang, pekerjaan sudah dalam genggaman umur sudah dewasa, apa lagi yang kau cari dan kau tunggu kalau bukan pasangan hidup?. Kini tibalah saatnya anda untuk menikah. Saya berani menggaransi kalau anda sudah punya ilmu yang tinggi, harta (pekerjaan) yang cukup, apalagi didukung oleh penampilan yang oke serta agama dan akhlak yang bagus, anda tidak perlu repot-repot mencari jodoh, bahkan andalah yang akan dicari dan diincar untuk dijadikan pendamping hidup atau dijadikan menantu oleh orang-orang  di sekeliling anda.

Itulah yang ideal!!!

Jadi tugas anda yang lebih perlu dan mendesak anda selesaikan saat ini adalah menyelesaikan kuliah sampai lulus dengan cumlaude, disambung dengan mendapatkan pekerjaan yang halal dan terhormat, baru anda menikah. Jadi menikah (terutama bagi laki-laki) sebaiknya ditempatkan pada bagian akhir.[5]

Jika Kondisi Memaksa lain

Sungguhpun setiap orang punya idealisme masing-masing, namun hidup tidak selalu menuntun dan mengajak orang dalam dunia idealitas yang kita harapkan. Terkadang kita terpaksa atau bahkan dipaksa untuk memasuki ‘dunia lain’ yang jauh dari idealisme. Taruhlah kita sedang kuliah namun di tengah jalan kita juga dipaksa untuk bekerja karena satu dan lain hal.[6] Atau kita terpaksa harus kawin terlebih dahulu karena sudah ‘kebelet’ yang dikhawatirkan akan mengarah dan menggiring ke pergaulan bebas atau karena suatu ‘kecelakaan’ – na’udzu billah min dzalik[7] . Bagaimana kita menghadapinya?

Butuh kecerdasan dan seni !!!

Kuliah sambil Bekerja

Kuliah sambil kerja jelas banyak keuntungannya terutama dari segi finansialnya. Anda bisa meringankan beban orang tua atau bahkan dapat membantu adik atau keluarga. Anda juga dapat pengalaman  tambahan di luar kampus yang cukup berguna kelak sebelum masuk dunia kerja yang sesungguhnya. Jadi kuliah sambil kerja bagus-bagus saja.

Di beberapa negeri barat, pada usia kuliah umumnya anak-anak sesusia mahasiswa sudah dilepaskan orang tuanya untuk mandiri dalam mengahadapi hidup termasuk dalam membiayai kuliahnya. Sedang di Indonesia pada umumnya anak sekolah dibiayai seratus persen sampai usia SLTA dan bahkan terkadang sampai perguruan tinggi. Sehingga boleh dibilang tingkat kemandirian pemuda Indonesia kurang dalam hal ekonomi dibanding  para pemuda di negeri barat.[8]

Persoalannya adalah jangan sampai kerja mengorbankan kuliah, karena sebagai mahasiswa tugas utama anda adalah kuliah dan belajar!. Bekerja tetap urusan kedua atau sekunder. Jangan sampai karena asyik dengan pekerjaannya berikut fasilitas yang anda raih, menjadikan kuliah sebagai ‘sambilan’ yang akibatnya prestasi anda hanya sekedar ‘lulus’ apalagi lulus-lulusan belaka.[9]

Kuliah sambil Nikah plus kerja

Bagi yang kuliah sekaligus telah menikah, maka mau tak mau ia pasti juga dituntut untuk bekerja. Rasa-rasanya cukup memalukan kalau sampai sudah menikah 100 % biaya hidup dan penghidupan ‘nyadong’ orang tua atau mertua. Jelas dengan menikah beban anda semakin bertambah dan berat apalagi jika sudah punya momongan. Anda harus membiayai kuliah diri anda sendiri ditambah kebutuhan keluarga atau rumah tangga.

Kuliah sambil nikah banyak keuntungan yang didapat seperti mendapatkan ketenangan jiwa, ada penyaluran syahwat yang halal, suka dan duka ada yang menemani, kedewasaan lebih mudah terbentuk dll. Namun demikian beberapa ‘kerugian’ atau katakanlah resiko juga dapat membayangi anda seperti beban hidup makin bertambah, urusan hidup semakin kompleks, tanggung jawab semakin berat yang kalau tidak disadari dan dipersiapkan dari awal akan membuat yang bersangkutan mengambil jalan pintas semisal bercerai atau lari dari tanggungjawab. Atau bisa juga kuliah menjadi gagal atau berhenti di tengah jalan, atau sungguhpun bisa selesai terkadang memakan waktu lebih lama dan terkadang hasilnya jauh dari memuaskan.[10]

Memang tidak dipungkiri, ada yang berhasil menyelesaikan studi dengan baik walau sambil menikah dan bekerja. Tetapi yang bisa seperti ini menurut hemat penulis membutuhkan kecerdasan emosi maupun spiritual yang tinggi, kedewasaan yang matang serta ketrampilan dan seni yang tinggi dalam mengatur dan membereskan segala persoalan yang timbul. Dengan bahasa lain yang dapat mengatur dan mengelola persoalan yang timbul akibat kuliah sambil nikah dan kerja adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecerdasan cukup tinggi baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual.[11]

Jadi bagi yang ingin kuliah sambil nikah (dan tentunya bekerja) dari awal harus sudah sadar sesadar-sadarnya akan resiko, konsekuensi dan akibat selanjutnya dari pilihannya itu. Agar jangan sampai terjadi seseorang lari dari kenyataan dan tanggung jawab akibat ia kurang siap dengan resiko yang harus ia tanggung pasca menikah.[12] Jangan sampai pernikahan yang semestinya mendatangkan maslahat di masing-masing pihak dan keluarga, berubah menjadi ajang penelantaran isteri dan anak karena belum/tidak sanggup menyediakan nafkah, atau menjadi ajang kekecewaan orang tua dan keluarga karena menambah beban mereka, atau jangan sampai menggagalkan tujuan anda semula yakni meraih ilmu yang setinggi-tingginya.

Kesimpulan

Kuliah, kerja dan nikah (KKN) adalah sebuah mata rantai kehidupan yang setiap mahasiswa akan melalui dan melewatinya, jadi harus dipersiapkan ketiga-tiganya dengan sebaik-baiknya. Cuma dalam hal ini perlu pengaturan serta penentuan prioritas mana yang lebih dahulu harus ‘digarap’ dan diselesaikan terlebih dahulu.

Berdasarkan kaidah taqdimul aham minal muhimm, maka menurut hemat penulis, yang perlu diutamakan dan didahulukan secara berurutan adalah kuliah sampai selesai dengan prestasi yang tinggi, lalu bekerja dan terakhir baru menikah. Ingat ! Siapa yang mampu menyelesaikan yang sulit, yang kurang sulit tentu akan mudah diselesaikan. Sebaliknya, siapa yang terbiasa menggarap hal-hal yang mudah saja, maka ketika menghadapi yang sulit ia bisa kelabakan.

Jika keadaan berkata lain maka pada dasarnya kuliah sambil kerja maupun kuliah sambil nikah dan kerja mungkin dan dapat saja dijalankan bersama-sama walau untuk itu dibutuhkan seni dan skill untuk mengelola dan mengatur sebaik-baiknya. Jika kemampuan anda dalam mengatur dan mengelola ini kurang, sebaiknya anda kuliah saja tanpa harus nyambi kerja atau nikah.

 

Daftar Bacaan

Abdurrahman al-Jazairi, Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, Istanbul: Dar ad-Da’wah, 1984, Jilid IV.

 

Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana  Ilmu, Cet I, 1998.

 

Siti Rahayu Haditomo, Psikologi Perkembangan; Pengantar dalam Berbagai bagiannya, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Cet, XII, 1999.

 

Husein Muhamad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kyai atas Wacana Agama dan Gender, Yogyakarta: LkiS, Cet. I, 2001.

 

Ibrahim Hosen, Fiqh Perbandingan Masalah Pernikahan, Bandung: Pustaka Firdaus, Cet. I, 2003.

 

Mohamad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta: Gema Insani Press, Cet. I, 2002.

 

Muslih Usa dan Aden Wijdan, Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, Yoigyakarta: Aditya Media, Cet. I, 1997.

 

Sarlito Wirawan, Bengkel Keluarga, Jakarta: Bulan Bintang, Cet.I, 1980.

 

 


Ж Disampaikan pada hari Rabu, 6 April 2005 di Aula STAIN Pekalongan dalam sebuah diskusi bertema  Problematika Mahasiswa antara Kuliah, Bekerja atau Menikah.

[1] Saat kuliah juga merupakan saat-saat orang untuk bekerja dan menikah, jadi wajar jika dalam perjalanan kuliah seseorang terpikir dan berpikir untuk nyambi bekerja maupun kuliah. Dari itu dibutuhkan sebuah kearifan dan kecermatan untuk menyikapi dan menghadapinya.

 

[2] Menurut hemat penulis, yang lebih mendesak dan patut lebih didahulukan untuk diselesaikan adalah kuliah, bukan bekerja ataupun menikah. Karena siapa yang sanggup menyelesaikan yang lebih sulit maka yang tingkat kesulitannya kurang akan lebih mudah terselesaikan.

 

[3] Jatuh cinta pada dasarnya adalah terjangkiti ‘penyakit jiwa’ dimana jiwa terganggu ketenangan dan kedamaiannya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, diam tidak betah, belajar tidak konsentrasi, beribadah tidak khusyu’ adalah sederet bukti bahwa jatuh cinta sama dengan terjangkiti gangguan jiwa. Maka kalau mampu lakukan jihad akbar dengan tidak  mencintai  (dalam arti terhadap lain jenis) sampai anda pada saat yang halal, yakni mencintai isteri/suami anda.

[4] Sedikit gambaran betapa ketatnya persaingan mencari kerja dapat dilihat pada proses penerimaan CPNS tahun 2004 lalu. Secara kasar perbandingan lowongan dengan pelamar tingkat nasional adalah 1 : 22. Bahkan untuk formasi-formasi tertentu perbandingannya bisa 1: 50, 1:100 dll.

 

[5] Bagi laki-laki sebaiknya ia kuliah dulu lalu bekerja baru menikah mengingat tanggungjawab laki-laki lebih berat khususnya dalam penyediaan nafkah dan tanggung jawab keluarga. Namun bagi mahasiswi, bisa saja ia kuliah sambil menikah sepanjang suaminya sudah lebih siap secara psikis dan ekonomis, walau harus diingat pula beberapa kemungkinan seperti kuliahnya agak terganggu selesainya.

[6] Kemungkinan seorang mahasiswa harus bekerja seperti karena orang tua tiba-tiba meninggal dunia, atau sedari awal memang kurang mampu membiayai, atau karena memang mahasiswa itu ingin mencari pengalaman dengan bekerja.

 

[7] Akibat derasnya informasi termasuk seputar seks, anak remaja lebih cepat matang secara seksual namun lambat kedewasaan pribadinya. Sehingga karena tidak dewasa dan selektif dalam menghadapi informasi terkadang seorang remaja larut dalam pergaulan bebas yang ujung-ujungnya bisa ditebak yakni hamil di luar nikah. Jadi kalau orang mau membuat sebuah novel zaman sekarang seputar pergaulan remaja, temanya tidak seperti zaman siti nurbaya yakni “kawin paksa’ namun tema zaman sekarang adalah ‘terpaksa kawin’.

 

[8] Di masyarakat kita seseorang yang belum bekerja atau menikah praktis menjadi tanggungan dan tanggung jawab kedua orang tuanya. Begitu luhur dan mulianya perhatian orang tua kita sampai anaknya sudah berkeluarga sekalipun bantuan dan perhatian orang tua tidak pernah berhenti. Tepat sekali kata sebuah pepatah “ Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”.

[9] Anggapan bahwa kuliah hanya untuk mencari kerja atau sekedar dapat title hendaknya di buang jauh-jauh. Bagi  umat Islam mencari ilmu dan menghilangkan kebodohan adalah sebuah kewajiban utama. Persoalan nanti kerja sebagai apa, asal seseorang memiliki ilmu dan skill yang dibutuhkan pasti ia dapat kerja dan rizki.

 

[10] Sebagian pemuda yang menikah dini kebanyakan ‘menjustifikasi’ tindakannya dengan berbagai dalil dari agama secara sederhana, misalnya nikah adalah ibadah, dari pada berzina dan ma’siyat dsb. Padahal para fuqaha mengklafisikan hukum nikah menjadi 5, bisa wajib, sunat, mubah, makruh dan bahkan haram bergantung dengan tingkat kesiapan dan kemaslahatan yang mungkin ditimbulkan baik bagi dirinya, isterinya maupun anak dan keluarganya. Jika ada mahasiswa yang belum siap secara ekonomi maupun belum dewasa/matang kepribadiannya dan patut diduga dengan menikah malah menimbulkan kemadharatan terhadap dirinya, isterinya bahkan keluarga dan anak-anaknya maka hukum pernikahan seperti ini adalah antara haram dan makruh, bukan sunah apalagi wajib. Dengan kata lain pernikahan seperti ini tidak layak disebut sebagai ibadah yang mendatangkan pahala. Periksa lebih jauh  Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, Juz II hlm 2, Asy-Syaukani, Nail al-Authar Juz VI hlm 230. Al-Jazairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Jilid IV, hlm. 4-7. Asy-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, Juz II, hlm. 136. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Juz IV hlm. 375.

[11] Menurut pengamatan penulis, pasangan yang menikah sambil kuliah yang berhasil biasanya  berangkat dari banyak kesamaan seperti kesamaan aqidah/ideology, ormas, prinsip dan komitmen. Dengan bahasa lain pasangan yang relatif eksis dengan nikah dininya adalah pasangan yang  sama-sama ‘ngaji’ dari guru yang sama dengan meyakini dan memegang teguh ajarannya. Sebaliknya bagi pasangan  yang menikah hanya karena dorongan sekedar ingin ‘halal’ untuk tamattu’ dengan lawan jenis tanpa persiapan yang cukup dan restu orang tua amat rentan terhadap perceraian. Apalagi bagi pasangan yang ‘terpaksa kawin’ karena kecelakaan lebih  dahulu, ini tentu  lebih beresiko.

 

[12] Banyak calon pasangan muda yang membayangkan atau menghayalkan bahwa pernikahan memberikan segalanya seperti keindahan, kenikmatan, kesenangan, disayang dan dimanja pasangannya. Namun yang seperti itu tidak sepenuhnya dapat dirasakan, atau kalau dapat dirasakan hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Saat anak sudah lahir, persoalan muncul, beban ekonomi bertambah, bagi yang kurang siap atau dewasa mungkin saja ia lari dari tanggung jawab dan bahkan mancari lagi pasangan yang baru.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: